Aksi damai menuntut proses hukum kecurigaan penistaan kepercayaan oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama 4 November lalu, mendapat apresiasi sebagian kalangan.
![]() |
| Gambar Aksi 4 November menuntut proses hukum penista Agama |
Aksi damai menuntut proses hukum kecurigaan penistaan kepercayaan oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama 4 November lalu, mendapat apresiasi sebagian kalangan.
Kepala Badan Musyawarah antara-Geraja Lembaga Keagamaan Kristen (BAMAG LKK), Agus Susanto, menyampaikan aksi yang terlaksana tertib, damai, dan dihadiri Ratusan ribu lebih massa itu membuktikan bahwa gerakan ini bukanlah gerakan politik.
“namun gerakan yang beranjak dari penegakan keyakinan (keagamaan),” ungkapnya terhadap Republika.Co.Id di Jakarta, Senin (7/11).
Berkiprah dari warta inilah, Agus meminta penguasa bersikap arif dan bijak mensikapi perkembangan tuntutan terhadap kecurigaan penistaan kepercayaan yang mengedepankan hukum daripada berhitung dari sisi perhitungan "politik" atau "politik kepentingan".
Agus mengingatkan elite politik agar tak terjebak pada manuver-manuver politik pada masalah ini serta meninggalkan perhitungan politik kebangsaan yang menghasilkan terobeknya NKRI. “Ini penting bila tak ingin kewibawaan penguasa hilang,” paparnya.
Ia berharap pihak berwajib transparan dan utuh menginformasikan penanganan hukum perkara kecurigaan penistaan kepercayaan itu terhadap penduduk .
Agus menegaskan negara, warga negara, dan organisasi asing manapun yang mendukung atau membela salah satu kandidat pada proses berdemokrasi bangsa ini, seperti Pilkada 2017, ialah bentuk intervensi yang akan berhadapan dengan kekuatan Indonesia.
Agus juga mengimbau umat Kristen tetap memperkokoh kerukunan, kesatuan dan menonjolkan kasih pada kehidupan sosial. Dia pun mengajak umat beragama hidup dalam kerukunan serta harmoni.
“Sekali Indonesia tetap Indonesia. Salam Kesatuan berbangsa dari kami umat Kristen buat umat Islam serta Indonesia,” ujarnya menutup perbincangan.
Sumber : Republika

COMMENTS